Posted by: hais | September 18, 2009

Mudik…!!??

Alhamdulillah akhirnya sampai juga dirumah dengan selamat, setelah perjalanan yang cukup melelahkan, tiga jam naik bis dari Cilegon ke stasiun Gambir, kemudian ditambah tiga belas jam di kereta.

Aku tidak akan bercerita betapa lamanya perjalanan dari Cilegon ke stasiun Gambir, karena macet dimana-mana, itu sudah biasa..   atau tiga belas jam duduk terkantuk-kantuk di kereta.

Aku ingin bercerita tiga jam menunggu kereta di stasiun Gambir. Banyak sekali yang ku lihat selama menunggu itu. Mulai dari antrian tiket di loket yang meng-ular, kasak-kusuk calo tiket merayu calon penumpang, sampai ibu-ibu yang berkejar-kejaran dengan anaknya karena tidak mau duduk diam menunggu, ada juga Bapak-bapak yang duduk mengantuk sambil bersandar di dinding ruang tunggu.

Daripada bengong sendirian aku hampiri bapak-bapak yang duduk terkantuk-kantuk itu, dan ketika ku ajak ngobrol, memang beliau sudah dari pagi sampai di stasiun Gambir, karena terlalu awal datang dari Pangkal Pinang.

Ketika sudah mulai mendekati waktu buka puasa aku ajak Bapak tua tadi mencari musholla, karena aku membayangkan bahwa di jam sholat maghrib musholla pasti akan menjadi tempat yang paling dicari oleh para penumpang muslim.

Masih kurang dua puluh menit dari waktu berbuka ketika aku ketemu musholla di pojok kanan pintu keluar stasiun Gambir. Kami memutuskan untuk menunggu saja disitu sambil ngobrol-ngobrol, karena kebetulan aku juga pernah tinggal di Pangkal Pinang maka ngobrol kami jadi agak nyambung.

Tak berapa lama ada beberapa penumpang yang menyusul masuk, rupanya mereka juga menyadari hal yang sama seperti kami, ada bapak-bapak dengan anaknya, ada adik mahasiswa yang baru saja datang dari tempat kostnya. Kami jadi makin ramai ngobrol, adik mahasiswa tadi jadi mendominasi, karena kebetulan hanya dia yang menetap di Jakarta, dia cerita mulai dari kemacetan di Jakarta, harga-harga yang mulai melambung di ibukota, sampai issue politik yang paling baru, kami hanya jadi pendengar dan hanya sesekali berkomentar.

Ketika kurang sepuluh menit, aku tanya ke adik mahasiswa dimana aku bisa mendapatkan bekal makanan untuk buka dan sahur, karena aku hanya bawa makanan kecil dan air minum saja sebagai bekal. Dia bilang aku bisa mencarinya di lantai 2, dekat pintu masuk, disitu ada resto Jepang yang menyajikan menu cepat saji.

Aku titipkan barang bawaan dan laptopku pada teman-teman baruku di musholla, supaya aku bisa berjalan cepat, karena waktu buka sudah tinggal sedikit. Dengan berjalan agak cepat aku menuju tempat yang dimaksud oleh adik mahasiswa tadi, beruntung sesampainya ditempat pemesanan antrian belum terlalu banyak, sehingga aku bisa dengan leluasa untuk memilih menu, dan membayar dengan cepat.

Di perjalanan kembali aku teringat berita di televisi yang menceritakan seorang penumpang yang ditipu teman seperjalannya yang baru dikenal, semua barang bawaannya dibawa kabur ketika dititpkan saat dia ke kamar mandi terminal, dan ada juga penumpang yang terbius gara-gara minum air yang ditawarkan oleh orang yang baru dikenalnya.

Aku jadi khawatir juga dengan barangku yang kutitipkan kepada teman-teman baruku, aku sempat berprasangka buruk, tapi akhirnya aku tepis prasangka itu dengan sebuah keyakinan, bahwa aku bertemu teman-temanku itu di tempat yang baik (musholla), pasti mereka juga orang yang baik, masak hanya sebuah atau dua buah kasus di televisi aku harus berprasangka kepada semua orang yang aku temui di dalam perjalananku, betapa tidak nyamannya hidupku kalau begitu. Itulah media, sebuah alat yang bisa mempengaruhi opini banyak orang dan lebih parah lagi sebuah alat yang bisa mempengaruhi budaya kalau tidak ada filter/saringan yang mengontrolnya, oleh karena itu secara individual kita harus membuat filter/saringan terhadap informasi yang kita terima dalam bentuk analisa, sehingga kita tidak menelan mentah-mentah semua informasi yang disampaikan kepada kita.

Bersamaan dengan berkumandangnya adzan maghrib aku sampai kembali di musholla, setelah membatalkan puasa, kami langsung sholat berjamaah. Selesai salam kami harus langsung meninggalkan tempat karena yang antri sholat sudah banyak, tidak ada dzikir apalagi doa.

Kemudian kami lanjutkan buka puasa bersama-sama diluar musholla. Karena keretaku yang paling awal, maka aku pamit duluan, untuk melanjutkan perjalananku menuju ke kota tempat istri dan anak-anakku menunggu di rumah.

Selamat tinggal stasiun Gambir, banyak kesan dan pelajaran yang telah aku ambil hari itu. Bahwa setiap langkah kita selalu ada hikmah, asal kita mau berpikir. (Hais-Sidoarjo)

Posted by: hais | September 9, 2009

Hikmah Berjamaah

“Jangan di dikamar saja anakku”, demikian ibuku berkata pada suatu sore. “Pergilah ke masjid untuk berjamaah”.

Aku memang lagi keranjingan playstation, apalagi kalau ada permainan baru yang cukup menantang, aku nggak pernah ke luar kamar.

Dengan agak malas aku keluar kamar dan pergi mandi.

“Aku ke masjid, Bu… Assalamu’alaikum.” Sambil  berlari mengambil sarung dan kopiah di kamar.

“Wa’alaikum salam….”, sahut ibuku dari dapur.

Sampai di masjid ku lihat Amar dan Iwan teman SD-ku dulu sedang ngobrol di bawah pohon.

“Hei Amar… Iwan…”, aku berteriak

“Hei.. Ahmad kemana saja kamu, kok nggak pernah kelihatan di masjid lagi”, tanya Amar.

“Iya… aku sekarang lagi betah di rumah, apalagi aku sampai dirumah sudah agak sore, jadi mau kemana-mana sudah malas..”, jawabku

Aku memang tidak lagi satu sekolah dengan Amar dan Iwan, mereka masih sekolah di SMP di desaku, sedangkan aku bersekolah di kota kecamatan.

“Teman-teman kita yang lain sekarang pada kemana, Wan…”, tanyaku.

“Itu… mereka di dalam lagi membantu pak Soleh merapikan buku-buku di rak samping”, jawab Iwan sambil berdiri, “Ayo.. kita ke dalam juga sekalian membantu…”

Pak Soleh adalah penjaga masjid di desaku, Beliau adalah pendatang dari seberang, tapi karena sudah lama sekali tinggal di desaku Beliau sudah dianggap sesepuh di desaku. Beliau orangnya ramah dan ringan tangan, setiap ada kesibukan Beliau pasti ada di situ. Beliau sangat disukai oleh anak-anak termasuk aku, Amar, dan Iwan, karena beliau suka melucu dan bercerita, ada saja ceritanya seolah-olah nggak ada habisnya. Kalau sore sehabis sholat Ashar beliau juga mengajar baca Qur’an, sambil kadang-kadang diselingi cerita riwayat para Nabi dan sahabat, oleh karena itu kami tak pernah bosan-bosannya untuk mendatangi beliau.

“Assalamu’alaikum… “

“Wa’alaikum salam… Hai Ahmad, kemana saja kamu, kok sudah lama tidak mengaji di masjid”, jawab pak Soleh.

“Maaf pak….., kalau sudah asyik bermain, saya sering lupa waktu dan tahu-tahu bedug maghrib sudah terdengar, sehingga tidak sempat lagi untuk mengaji ke masjid.”

“Ya sudah… kamu ke teman-temanmu sana, bantu mereka merapikan buku dan Al qur’an yang ada di rak samping, nanti kalau sudah selesai ajak teman-temanmu kesini, ini ada minuman dan makanan kecil kiriman bu RT untuk rapat Takmir masjid yang berlebih.”

Aku melangkah ke beranda samping masjid menghampiri teman-temanku yang lagi sibuk membenahi buku-buku sambil bergurau dan tertawa-tawa.

“Hei.. Ahmad.. Kemana aja, aku pikir sudah lupa dengan kita-kita disini, begitu sudah jadi anak kota…”, seloroh Bari, temanku satu bangku dulu waktu masih di SD.

“Ha..ha.. bagaimana aku bisa lupa dengan kamu Bar…, kamu khan yang sering  menghabiskan kue jatah makan siangku…”

“Ah.. kamu bisa saja, aku khan hanya membantu untuk membersihkan saja….”, sahut Bari sambil memukul ringan pundakku.

Disini hampir semua teman bermain sewaktu masih SD bisa kutemui, ada Wahyu yang hobby menggambar, sampai semua buku tulisnya selalu habis duluan karena penuh dengan coretan gambar, ada Radi putra kepala sekolah, ada Banu, Rahman, dan  si Bima yang badannya besar tapi masih suka menangis.

Aku bahagia sekali sore itu bisa kembali bersenda-gurau dengan teman-teman lama, dan saling bercerita pengalaman masing-masing selama bersekolah di SMP.

“He.. Anak-anak kalau sudah selesai merapikan, kesini…. Ini ada makanan yang siap dihabiskan…”, teriak pak Soleh dari beranda depan.

Kontan saja… kami semua berlarian menuju ke tempat pak Soleh.

“Hei..hei.. Jangan berebut, masih banyak… jangan kuatir tidak kebagian…”, Seru pak Soleh. “Hayo duduk semua Bapak akan bercerita….”.

Kami semua bergerombol membentuk setengah lingkaran, suasana yang tadi ribut menjadi tenang, semua menunggu pak Soleh bercerita.

“Sebenarnya Bapak ingin cerita kisah para sahabat, tapi karena sudah mendekati maghrib, Bapak cuma mau memberi nasehat buat Ahmad dan kalian semua, kalian tahu sapu lidi nggak..?”

“Tahu pak…..,” sahut kami seperti paduan suara.

“Nah.. Lidi itu kalau cuma satu batang dia mudah dipatahkan tidak banyak manfaatnya, tapi kalau dia banyak dan dikumpulkan menjadi satu bundel maka baru dia menjadi kuat dan sulit untuk dipatahkan juga bisa dimanfaatkan menjadi sebuah sapu yang bisa membersihkan semua kotoran, demikan juga kita, walaupun bagaimana pintarnya kita kalau kita sendirian maka itu tidak banyak bermanfaat untuk semuanya, tapi kalau banyak orang dan mau mengumpul atau berjamaah barulah kita bisa menjadi kuat dan bermanfaat.”

“Nah.. Ahmad dan yang lain juga, bagaimanapun pintar dan kuatnya kita kalau sendirian menyelesaikan sebuah  pekerjaan, maka akan berat sekali kita rasakan, tapi kalau pekerjaan itu kita selesaikan secara bersama-sama, maka yang berat tadi menjadi ringan. Contohnya seperti yang kalian kerjakan tadi, kalau mengatur dan merapikan buku tadi dikerjakan sendirian maka jadi berat dan tidak selesai-selesai, tapi begitu dikerjakan bersama-sama, pekerjaan itu jadi ringan dan cepat selesai, mengerti kalian…?“

“Mengerti pak….”, sahut kami bersama-sama.

“Baiklah.. Bapak cukupkan dulu ngobrolnya, karena sudah masuk maghrib.. Coba kamu yang  Adzan.. Mar..”, pak Soleh menutup nasehatnya.

Begitulah kami terus berlarian ke tempat wudlu. Untuk kemudian menunaikan shalat maghrib berjamaah.

Sepulang dari masjid  aku tiba-tiba teringat nasehat ayahku dua minggu yang lalu, waktu itu aku sedang asyik bermain playstation dalam kamar, dan dipanggil oleh beliau aku tidak menyahut saking asyiknya bermain. Persis seperti yang dinasihatkan oleh pak Soleh tadi Sore bahwa kita jangan hidup menyendiri,  dan harus hidup bermasyarakat, dan kita diharuskan berjamaah.

Malahan yang dinasihatkan oleh ayah agak lebih banyak, bahwa dengan berjamaah itu kita mempunyai banyak manfaat diantaranya : memperpanjang tali silatuhami, menambah rejeki, dan memperpanjang umur.

Kalau manfaatnya memperpanjang silaturahmi aku masih bisa mengerti, tapi kalau yang menambah rejeki dan memperpanjang umur aku masih bingung, dan ketika kutanyakan ke Ayah, beliau menerangkan,

“Dengan semakin panjang silaturahmi kita maka informasi yang kita dapatkan akan semakin banyak, misalnya kalau kita berdagang, kita akan punya banyak sumber untuk membeli dan menjual barang dagangan kita, faham nak…?”

“Oh kalau itu kira-kira faham pak, lha.. kalau yang memperpanjang umur gimana pak… ?”, tanyaku lagi.

“Memang umur manusia tidak ada yang bisa menentukan, tapi pengertian memperpanjang umur,  kira-kira begini, kalau kita sendirian, umur kita hanya untuk  diri kita sendiri saja dan untuk tidur, tapi kalau silaturahmi kita panjang, maka umur kita akan semakin banyak bermanfaat , dan karena ada teman bersilaturahmi maka waktu tidur kita juga akan semakin berkurang, asal waktu ini dipakai untuk yang bermanfaat lho…”

“Aku agak faham, Yah… walaupun bingungnya masih ada…” jawabku.

“Sudahlah.. Nanti dengan semakin bertambah umur dan pengalamanmu, hal ini pasti akan semakin kamu  mengerti…”

————————————————- ooo 0000ooo——————————————————

Apakah kaki kita sudah ringan melangkah? Apakah telinga kita sudah siap mendengar? Apakah hati kita sudah siap untuk ikhlas? Marilah kita petik hikmah berjamaah ini, paling tidak kita bisa saling mengingatkan, bukankah dengan semakin panjangnya silaturahmi kita, semakin banyak pula mengingatkan kalau kita salah. (hais-cilegon)

Allahu a’lam bishowab

Posted by: hais | August 28, 2009

Ketika Saya Meminta

Saya minta kekuatan,
Tuhan memberi saya rintangan untuk membuat saya kuat.

Saya minta kebijaksanaan,
Tuhan memberi saya masalah untuk saya pecahkan.

Saya minta kekayaan,
Tuhan memberi saya akal untuk bekerja.

Saya minta keberanian,
Tuhan memberi saya bahaya-bahaya untuk saya atasi.

Saya minta Cinta,
Tuhan memberi saya seorang pasangan yang selalu mengasihiku.

Saya minta kasih,
Tuhan memberi saya anak-anak terlantar untuk saya bantu.

Saya minta karunia,
Tuhan memberi saya kesempatan.

Dalam semua hal itu, saya tidak menerima apa yang saya inginkan,
Tetapi saya menerima apa yang saya butuhkan.

Ternyata doa saya dikabulkan.
Posted by: hais | August 27, 2009

Catatan Sebuah Vas Bunga

Disebuah toko bunga berjalan-jalan sepasang suami istri muda,  sang istri ingin membeli sebuah bingkisan untuk ibu mertuanya yang sedang ulang tahun.

Berjalan mondar-mandir sambil sesekali menanyakan pendapat suaminya tentang barang yang  akan dibeli, sampailah dia di deretan vas bunga yang cantik-cantik.

“Mas.. Vas bunga ini cantik-cantik sekali, mana yang cocok untuk ibu ya…?”

“Ibu sukanya warna-warna yang cerah, tapi tidak suka yang coraknya terlalu banyak”, komentar sang suami.

“Kalau yang ini bagaimana, Mas”, tanya sang istri sambil mengambil vas bunga warna kuning gading dengan sedikit motif bunga di bagian bawah.

“Boleh juga itu dik, mudah-mudahan ibu suka, lagipula sepertinya yang warna dan model begitu ibu belum punya”, kata sang suami.

Kemudian dicoba ditaruh oleh sang istri vas bunga tersebut di atas meja contoh, ”Wah… cantik sekali ya.., apalagi kalau sudah diisi bunga”.

Tiba-tiba terdengar Vas bunga itu berbicara:

“Aku dulu tidak seindah dan secantik ini, Aku hanyalah segumpal tanah yang tidak ada harganya. Kemudian oleh seorang bapak pengrajin aku dibawa pulang, di rumahnya aku dibanting-banting diatas sebuah meja bundar, aku berteriak-teriak kesakitan, oleh bapak pengrajin tidak dihiraukannya, malahan meja budar itu diputar kencang, aku masih berteriak-teriak minta dihentikan karena pusing sekali, setelah itu semuanya hilang, rupanya aku sudah tak sadarkan diri”

“Begitu tersadar saya sudah berada dihalaman rumah, aku lihat matahari terbit indah sekali, tapi tak lama keindahan itu bisa aku nikmati, setelahnya aku mulai merasa kepanasan, menyengat sekali, sampai kering sekali aku rasakan.”

“Kemudian aku dibawa lagi ke atas meja, aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh bapak pengrajin, yang aku rasakan hanya tubuhku digores-gores, kemudian dioles dengan sesuatu, setelah itu diam…..”

“Semalaman aku didiamkan diatas meja, aku mulai merenung, apalagi yang akan aku alami…??”

“Pagi harinya oleh bapak pengrajin aku dimasukkan ke sebuah kotak, mula-mula aku rasakan hangat ditubuhku, nyaman sekali, tapi makin lama makin panas, aku berteriak-teriak kepanasan, tapi tak satupun yang mendengarnya, hingga aku tak sadarkan diri lagi.”

“Begitu tersadar kudapati diriku berada di atas rak kaca, kulihat diriku di depan kaca. Ooo.. betapa cantiknya diriku, ternyata bahwa penderitaanku beberapa waktu yang lalu itu menjadi tidak berarti setelah kulihat bahwa dari sesuatu yang tidak ada harganya, aku menjadi sebuah barang yang sangat indah dan berharga,  oleh orang-orang aku diberi nama vas bunga.”

Nah.. teman.. itulah gambaran dari perjalanan hidup kita, dari bukan apa-apa kita akan melewati sebuah jalan hidup, dimana didalamnya kita akan dibanting-banting, diputar-putar, dengan berbagai cobaan, kemudian adakalanya kita mengalami sebuah masa-masa indah dan nyaman, yang itu tidak lama kita rasakan, kemudian kita akan kembali dipanaskan lagi dengan ujian, begitu seterusnya sampai diakhirnya kita akan melihat sebuah hasil akhir yang indah, kalau kita tahan terhadap semua cobaan itu.

Oleh karena itu dalam menerima semua cobaan marilah kita bersabar, karena kita tidak tahu akan kemana jalan hidup kita dikemudian hari, yakinlah bahwa apapun yang diberikan oleh Allah adalah hal yang terbaik untuk kita. (Hais-Cilegon)

Reff :

Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (QS11-11)

Posted by: hais | August 26, 2009

Pelajaran dari Penjual Ayam

Pagi ini sambil jalan-jalan pagi aku merenungi kejadian kemarin sore: anak buahku yang tadinya rajin, disiplin, loyal, dan pekerja keras menjadi orang malas, ogah-ogahan, dan tidak disiplin sama sekali serta cenderung jadi seorang pemberontak.

Aku bingung, Ada apa dengan si Badu ini…?

Tiba-tiba aku ingat cerita Kakekku:

Pada waktu kakekku pergi ke pasar, Beliau ditawari oleh seorang penjual ayam, “Ini ayam yang bagus Kek.. yang jantan ini adalah pejantan tangguh, dia tidak pernah kalah dalam setiap beradu dengan jantan yang lain, sedangkan yang betina ini adalah petelor yang baik sehari saja tidak kurang 8 sampai 10 butir telor dihasilkannya.”

Kalau dilihat dari potongan badannya sepertinya apa yang ditawarkan oleh si penjual ayam ini tidak membual, karena ayam jantannya kelihatan besar dan tegap sedangkan betinanya kelihatan gemuk dan sehat, akhirnya dibelilah oleh kakek sepasang ayam jantan dan betina, dengan harapan kalau bibitnya bagus pasti hasilnya akan bagus juga.

Beberapa bulan kemudian, apa yang diharapkan oleh kakek tidak pernah jadi kenyataan, si betina hanya menghasilkan telor yang tidak terlalu banyak paling cuma 3 atau 4 butir saja, itupun tidak setiap hari, pernah dicoba untuk ditetaskan dari 10 butir hanya 2 atau 3 butir yang menetas, malah ayamnya sekarang kelihatan kurus dan tidak sehat.

Pergilah kakek ke pasar untuk menemui si penjual ayam, “Pak… Ayam yang dulu saya beli disini kok hasilnya jadi tidak bagus ya..? Telornya nggak bisa banyak dan ayamnya jadi kurus dan kelihatan tidak sehat..”

“Lho kok bisa ya…?? khan dulu waktu beli ayam itu sehat-sehat saja khan, bagaimana cara kakek memeliharanya di rumah?”, tanya si penjual ayam.

“Biasa saja, karena halaman kami tidak terlalu luas, ayam saya buatkan kandang di belakang rumah”

“Kebersihan kandang dan makanan ayamnya bagaimana?”, tanya penjual ayam lagi.

“Nah itulah yang jadi masalah, karena istriku tidak terlalu suka dengan ayam, jadi kandang ayam itu agak tidak terurus, makanannya kurang teratur, apalagi kalau kami harus pergi untuk menengok cucu di kota”, jawab kakek.

“Nah… Sekarang baru ketahuan kenapa ayam kakek jadi begitu… Sebenarnya memelihara ayam atau binatang yang lain itu sebenarnya kuncinya satu… yaitu HATI, kalau kita memelihara dengan HATI pastilah ayam itu akan jadi ayam yang sehat dan produktif..”, kata si penjual ayam.

“Apa maksudnya memelihara dengan HATI, pak?”, tanya kakek.

“Maksudnya begini, kita harus memelihara peliharaan kita itu dengan kasih sayang, artinya bahwa kita juga harus bisa membayangkan bahwa ayam adalah juga makhluk Allah yang mempunyai kebutuhan biologis sama dengan makhluk-makhluk yang lain, artinya bahwa dia juga membutuhkan sebuah tempat yang bersih, suasana yang nyaman, kebutuhan makan yang teratur dan lain-lainnya. Nah… kalau itu terpenuhi Insya Allah hasil baik yang kita harapkan akan tercapai. Jadi kita tidak bisa mengharapkan hasil yang baik hanya dengan membeli bibit yang baik, tapi mengabaikan proses pemeliharaannya..”, penjual ayam menjelaskan.

“Ooo…. begitu ya, betul juga pak.. mungkin karena istriku tidak suka dengan ayam dan aku tidak bisa rutin memeliharanya, sehingga lebih banyak ayam itu terabaikan, makanya hasil akhirnya jadi tidak bagus..”, sambung kakek.

Aku bisa membayangkan bahwa ayam saja untuk memelihara atau mengelolanya membutuhkan HATI, apalagi anak buahku. Aku harus bisa ikhlas untuk tidak menyalahkan anak buahku, karena mungkin perubahan ini ada andilku dalam mengelola pelaksanaan systemnya (walaupun pada kenyataannya aku harus marah juga kalau dia mulai teledor dan tidak disiplin). Kalau systemnya sudah tidak bisa mengikuti perkembangan tuntutan hajat hidup sekarang, akan aku coba usulkan untuk memperbaiki system yang ada. Bukankah yang membuat system ini juga manusia, karena mungkin masalah yang ada di sepuluh tahun yang lalu sudah berbeda dengan yang sekarang.

Besok aku akan menanyakan kenapa dia berubah jadi begitu? Apakah selama dalam proses bekerja ada hal yang membuat dia jadi tidak nyaman, karena aku yakin bahwa pemilihan bibitnya sudah bagus, sekarang aku tinggal mengevaluasi prosesnya, Apakah system sudah bagus? Apakah Pelaksana systemnya sudah bagus? Atau memang ada masalah pribadi pada anak buahku?  (Hais-Cilegon)

Posted by: hais | August 24, 2009

Awal sebuah cerita

Assalamu’alaikum

Alhamdulillah hari ini aku mulai mencoba lagi untuk menulis… Sebuah hobby yang sudah lama sekali aku tinggalkan.. Terima kasih untuk Izal, sudah menunjukkan jalannya.. Semoga menjadi awal yang baik.. Selama ini aku hanya take saja.. Hanya mengambil apa saja dan dari mana-mana.. Sekarang aku ingin mulai give untuk semua.. Sehingga ada balance take and give paling tidak aku juga ingin sharing dengan teman-teman, sahabat-sahabat dan para handai taulan…  Sekalian di awal sebuah cerita ini aku minta ijin me-refresh lagi semua hal yang pernah aku take untuk re-posting dalam blog-ku.. Terima kasih sebelumnya.. Kalau ada yang keberatan tolong hubungi aku di-sini…

Wassalamu’alaikum

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.