Pagi ini sambil jalan-jalan pagi aku merenungi kejadian kemarin sore: anak buahku yang tadinya rajin, disiplin, loyal, dan pekerja keras menjadi orang malas, ogah-ogahan, dan tidak disiplin sama sekali serta cenderung jadi seorang pemberontak.
Aku bingung, Ada apa dengan si Badu ini…?
Tiba-tiba aku ingat cerita Kakekku:
“Pada waktu kakekku pergi ke pasar, Beliau ditawari oleh seorang penjual ayam, “Ini ayam yang bagus Kek.. yang jantan ini adalah pejantan tangguh, dia tidak pernah kalah dalam setiap beradu dengan jantan yang lain, sedangkan yang betina ini adalah petelor yang baik sehari saja tidak kurang 8 sampai 10 butir telor dihasilkannya.”
Kalau dilihat dari potongan badannya sepertinya apa yang ditawarkan oleh si penjual ayam ini tidak membual, karena ayam jantannya kelihatan besar dan tegap sedangkan betinanya kelihatan gemuk dan sehat, akhirnya dibelilah oleh kakek sepasang ayam jantan dan betina, dengan harapan kalau bibitnya bagus pasti hasilnya akan bagus juga.
Beberapa bulan kemudian, apa yang diharapkan oleh kakek tidak pernah jadi kenyataan, si betina hanya menghasilkan telor yang tidak terlalu banyak paling cuma 3 atau 4 butir saja, itupun tidak setiap hari, pernah dicoba untuk ditetaskan dari 10 butir hanya 2 atau 3 butir yang menetas, malah ayamnya sekarang kelihatan kurus dan tidak sehat.
Pergilah kakek ke pasar untuk menemui si penjual ayam, “Pak… Ayam yang dulu saya beli disini kok hasilnya jadi tidak bagus ya..? Telornya nggak bisa banyak dan ayamnya jadi kurus dan kelihatan tidak sehat..”
“Lho kok bisa ya…?? khan dulu waktu beli ayam itu sehat-sehat saja khan, bagaimana cara kakek memeliharanya di rumah?”, tanya si penjual ayam.
“Biasa saja, karena halaman kami tidak terlalu luas, ayam saya buatkan kandang di belakang rumah”
“Kebersihan kandang dan makanan ayamnya bagaimana?”, tanya penjual ayam lagi.
“Nah itulah yang jadi masalah, karena istriku tidak terlalu suka dengan ayam, jadi kandang ayam itu agak tidak terurus, makanannya kurang teratur, apalagi kalau kami harus pergi untuk menengok cucu di kota”, jawab kakek.
“Nah… Sekarang baru ketahuan kenapa ayam kakek jadi begitu… Sebenarnya memelihara ayam atau binatang yang lain itu sebenarnya kuncinya satu… yaitu HATI, kalau kita memelihara dengan HATI pastilah ayam itu akan jadi ayam yang sehat dan produktif..”, kata si penjual ayam.
“Apa maksudnya memelihara dengan HATI, pak?”, tanya kakek.
“Maksudnya begini, kita harus memelihara peliharaan kita itu dengan kasih sayang, artinya bahwa kita juga harus bisa membayangkan bahwa ayam adalah juga makhluk Allah yang mempunyai kebutuhan biologis sama dengan makhluk-makhluk yang lain, artinya bahwa dia juga membutuhkan sebuah tempat yang bersih, suasana yang nyaman, kebutuhan makan yang teratur dan lain-lainnya. Nah… kalau itu terpenuhi Insya Allah hasil baik yang kita harapkan akan tercapai. Jadi kita tidak bisa mengharapkan hasil yang baik hanya dengan membeli bibit yang baik, tapi mengabaikan proses pemeliharaannya..”, penjual ayam menjelaskan.
“Ooo…. begitu ya, betul juga pak.. mungkin karena istriku tidak suka dengan ayam dan aku tidak bisa rutin memeliharanya, sehingga lebih banyak ayam itu terabaikan, makanya hasil akhirnya jadi tidak bagus..”, sambung kakek.”
Aku bisa membayangkan bahwa ayam saja untuk memelihara atau mengelolanya membutuhkan HATI, apalagi anak buahku. Aku harus bisa ikhlas untuk tidak menyalahkan anak buahku, karena mungkin perubahan ini ada andilku dalam mengelola pelaksanaan systemnya (walaupun pada kenyataannya aku harus marah juga kalau dia mulai teledor dan tidak disiplin). Kalau systemnya sudah tidak bisa mengikuti perkembangan tuntutan hajat hidup sekarang, akan aku coba usulkan untuk memperbaiki system yang ada. Bukankah yang membuat system ini juga manusia, karena mungkin masalah yang ada di sepuluh tahun yang lalu sudah berbeda dengan yang sekarang.
Besok aku akan menanyakan kenapa dia berubah jadi begitu? Apakah selama dalam proses bekerja ada hal yang membuat dia jadi tidak nyaman, karena aku yakin bahwa pemilihan bibitnya sudah bagus, sekarang aku tinggal mengevaluasi prosesnya, Apakah system sudah bagus? Apakah Pelaksana systemnya sudah bagus? Atau memang ada masalah pribadi pada anak buahku? (Hais-Cilegon)
wah tulisan yang bagus pa..
memang kita lebih suka untuk menyalahkan orang ketimbang berfikir hal itu bisa terjadi.
By: iderizal on August 26, 2009
at 2:04 pm