“Jangan di dikamar saja anakku”, demikian ibuku berkata pada suatu sore. “Pergilah ke masjid untuk berjamaah”.
Aku memang lagi keranjingan playstation, apalagi kalau ada permainan baru yang cukup menantang, aku nggak pernah ke luar kamar.
Dengan agak malas aku keluar kamar dan pergi mandi.
“Aku ke masjid, Bu… Assalamu’alaikum.” Sambil berlari mengambil sarung dan kopiah di kamar.
“Wa’alaikum salam….”, sahut ibuku dari dapur.
Sampai di masjid ku lihat Amar dan Iwan teman SD-ku dulu sedang ngobrol di bawah pohon.
“Hei Amar… Iwan…”, aku berteriak
“Hei.. Ahmad kemana saja kamu, kok nggak pernah kelihatan di masjid lagi”, tanya Amar.
“Iya… aku sekarang lagi betah di rumah, apalagi aku sampai dirumah sudah agak sore, jadi mau kemana-mana sudah malas..”, jawabku
Aku memang tidak lagi satu sekolah dengan Amar dan Iwan, mereka masih sekolah di SMP di desaku, sedangkan aku bersekolah di kota kecamatan.
“Teman-teman kita yang lain sekarang pada kemana, Wan…”, tanyaku.
“Itu… mereka di dalam lagi membantu pak Soleh merapikan buku-buku di rak samping”, jawab Iwan sambil berdiri, “Ayo.. kita ke dalam juga sekalian membantu…”
Pak Soleh adalah penjaga masjid di desaku, Beliau adalah pendatang dari seberang, tapi karena sudah lama sekali tinggal di desaku Beliau sudah dianggap sesepuh di desaku. Beliau orangnya ramah dan ringan tangan, setiap ada kesibukan Beliau pasti ada di situ. Beliau sangat disukai oleh anak-anak termasuk aku, Amar, dan Iwan, karena beliau suka melucu dan bercerita, ada saja ceritanya seolah-olah nggak ada habisnya. Kalau sore sehabis sholat Ashar beliau juga mengajar baca Qur’an, sambil kadang-kadang diselingi cerita riwayat para Nabi dan sahabat, oleh karena itu kami tak pernah bosan-bosannya untuk mendatangi beliau.
“Assalamu’alaikum… “
“Wa’alaikum salam… Hai Ahmad, kemana saja kamu, kok sudah lama tidak mengaji di masjid”, jawab pak Soleh.
“Maaf pak….., kalau sudah asyik bermain, saya sering lupa waktu dan tahu-tahu bedug maghrib sudah terdengar, sehingga tidak sempat lagi untuk mengaji ke masjid.”
“Ya sudah… kamu ke teman-temanmu sana, bantu mereka merapikan buku dan Al qur’an yang ada di rak samping, nanti kalau sudah selesai ajak teman-temanmu kesini, ini ada minuman dan makanan kecil kiriman bu RT untuk rapat Takmir masjid yang berlebih.”
Aku melangkah ke beranda samping masjid menghampiri teman-temanku yang lagi sibuk membenahi buku-buku sambil bergurau dan tertawa-tawa.
“Hei.. Ahmad.. Kemana aja, aku pikir sudah lupa dengan kita-kita disini, begitu sudah jadi anak kota…”, seloroh Bari, temanku satu bangku dulu waktu masih di SD.
“Ha..ha.. bagaimana aku bisa lupa dengan kamu Bar…, kamu khan yang sering menghabiskan kue jatah makan siangku…”
“Ah.. kamu bisa saja, aku khan hanya membantu untuk membersihkan saja….”, sahut Bari sambil memukul ringan pundakku.
Disini hampir semua teman bermain sewaktu masih SD bisa kutemui, ada Wahyu yang hobby menggambar, sampai semua buku tulisnya selalu habis duluan karena penuh dengan coretan gambar, ada Radi putra kepala sekolah, ada Banu, Rahman, dan si Bima yang badannya besar tapi masih suka menangis.
Aku bahagia sekali sore itu bisa kembali bersenda-gurau dengan teman-teman lama, dan saling bercerita pengalaman masing-masing selama bersekolah di SMP.
“He.. Anak-anak kalau sudah selesai merapikan, kesini…. Ini ada makanan yang siap dihabiskan…”, teriak pak Soleh dari beranda depan.
Kontan saja… kami semua berlarian menuju ke tempat pak Soleh.
“Hei..hei.. Jangan berebut, masih banyak… jangan kuatir tidak kebagian…”, Seru pak Soleh. “Hayo duduk semua Bapak akan bercerita….”.
Kami semua bergerombol membentuk setengah lingkaran, suasana yang tadi ribut menjadi tenang, semua menunggu pak Soleh bercerita.
“Sebenarnya Bapak ingin cerita kisah para sahabat, tapi karena sudah mendekati maghrib, Bapak cuma mau memberi nasehat buat Ahmad dan kalian semua, kalian tahu sapu lidi nggak..?”
“Tahu pak…..,” sahut kami seperti paduan suara.
“Nah.. Lidi itu kalau cuma satu batang dia mudah dipatahkan tidak banyak manfaatnya, tapi kalau dia banyak dan dikumpulkan menjadi satu bundel maka baru dia menjadi kuat dan sulit untuk dipatahkan juga bisa dimanfaatkan menjadi sebuah sapu yang bisa membersihkan semua kotoran, demikan juga kita, walaupun bagaimana pintarnya kita kalau kita sendirian maka itu tidak banyak bermanfaat untuk semuanya, tapi kalau banyak orang dan mau mengumpul atau berjamaah barulah kita bisa menjadi kuat dan bermanfaat.”
“Nah.. Ahmad dan yang lain juga, bagaimanapun pintar dan kuatnya kita kalau sendirian menyelesaikan sebuah pekerjaan, maka akan berat sekali kita rasakan, tapi kalau pekerjaan itu kita selesaikan secara bersama-sama, maka yang berat tadi menjadi ringan. Contohnya seperti yang kalian kerjakan tadi, kalau mengatur dan merapikan buku tadi dikerjakan sendirian maka jadi berat dan tidak selesai-selesai, tapi begitu dikerjakan bersama-sama, pekerjaan itu jadi ringan dan cepat selesai, mengerti kalian…?“
“Mengerti pak….”, sahut kami bersama-sama.
“Baiklah.. Bapak cukupkan dulu ngobrolnya, karena sudah masuk maghrib.. Coba kamu yang Adzan.. Mar..”, pak Soleh menutup nasehatnya.
Begitulah kami terus berlarian ke tempat wudlu. Untuk kemudian menunaikan shalat maghrib berjamaah.
Sepulang dari masjid aku tiba-tiba teringat nasehat ayahku dua minggu yang lalu, waktu itu aku sedang asyik bermain playstation dalam kamar, dan dipanggil oleh beliau aku tidak menyahut saking asyiknya bermain. Persis seperti yang dinasihatkan oleh pak Soleh tadi Sore bahwa kita jangan hidup menyendiri, dan harus hidup bermasyarakat, dan kita diharuskan berjamaah.
Malahan yang dinasihatkan oleh ayah agak lebih banyak, bahwa dengan berjamaah itu kita mempunyai banyak manfaat diantaranya : memperpanjang tali silatuhami, menambah rejeki, dan memperpanjang umur.
Kalau manfaatnya memperpanjang silaturahmi aku masih bisa mengerti, tapi kalau yang menambah rejeki dan memperpanjang umur aku masih bingung, dan ketika kutanyakan ke Ayah, beliau menerangkan,
“Dengan semakin panjang silaturahmi kita maka informasi yang kita dapatkan akan semakin banyak, misalnya kalau kita berdagang, kita akan punya banyak sumber untuk membeli dan menjual barang dagangan kita, faham nak…?”
“Oh kalau itu kira-kira faham pak, lha.. kalau yang memperpanjang umur gimana pak… ?”, tanyaku lagi.
“Memang umur manusia tidak ada yang bisa menentukan, tapi pengertian memperpanjang umur, kira-kira begini, kalau kita sendirian, umur kita hanya untuk diri kita sendiri saja dan untuk tidur, tapi kalau silaturahmi kita panjang, maka umur kita akan semakin banyak bermanfaat , dan karena ada teman bersilaturahmi maka waktu tidur kita juga akan semakin berkurang, asal waktu ini dipakai untuk yang bermanfaat lho…”
“Aku agak faham, Yah… walaupun bingungnya masih ada…” jawabku.
“Sudahlah.. Nanti dengan semakin bertambah umur dan pengalamanmu, hal ini pasti akan semakin kamu mengerti…”
————————————————- ooo 0000ooo——————————————————
Apakah kaki kita sudah ringan melangkah? Apakah telinga kita sudah siap mendengar? Apakah hati kita sudah siap untuk ikhlas? Marilah kita petik hikmah berjamaah ini, paling tidak kita bisa saling mengingatkan, bukankah dengan semakin panjangnya silaturahmi kita, semakin banyak pula mengingatkan kalau kita salah. (hais-cilegon)
Allahu a’lam bishowab
ya kalo sendiri nanti dimakan srigala, kalo bersam-sama kan enak ada kebersamaan saling menghargai dan tentunya bersemangat.
By: kawanlama95 on September 10, 2009
at 3:03 am
hmm……..kapan yah blueh bisa menulis semantab u
salam hangat selalu
By: dobleh yang malang on September 11, 2009
at 5:41 am
Jadi tersentil sendiri T_T
Ya Allah….
By: Bang Aswi on September 13, 2009
at 1:42 am
@kawanlama95: apalagi lagi kalo bersama-samanya urusan makan pasti enak tho…….
@dobleh yang malang: terima kasih.. saya juga msh hrs banyak belajar dr senior2 blogger yg lain…
@Bang Aswi: Amin…. Semoga bisa saling mengingatkan, terutama utk diri saya sendiri.
By: hais on September 14, 2009
at 1:31 am
blue datang kembali heheh……..
salam hangat selalu
By: bluethunderheart on September 14, 2009
at 12:09 pm
wah moga diberi kekuatan agar selalu behati bersih dan berfikiran jernih
By: iderizal on September 15, 2009
at 7:38 am
@bluethunderheart: ‘met datang lagi, selalu bangga dpt kunjungan blue… he..he..
@iderizal: Amin zal… moga kita semua begitu..
By: hais on September 18, 2009
at 6:32 am