Posted by: hais | September 18, 2009

Mudik…!!??

Alhamdulillah akhirnya sampai juga dirumah dengan selamat, setelah perjalanan yang cukup melelahkan, tiga jam naik bis dari Cilegon ke stasiun Gambir, kemudian ditambah tiga belas jam di kereta.

Aku tidak akan bercerita betapa lamanya perjalanan dari Cilegon ke stasiun Gambir, karena macet dimana-mana, itu sudah biasa..   atau tiga belas jam duduk terkantuk-kantuk di kereta.

Aku ingin bercerita tiga jam menunggu kereta di stasiun Gambir. Banyak sekali yang ku lihat selama menunggu itu. Mulai dari antrian tiket di loket yang meng-ular, kasak-kusuk calo tiket merayu calon penumpang, sampai ibu-ibu yang berkejar-kejaran dengan anaknya karena tidak mau duduk diam menunggu, ada juga Bapak-bapak yang duduk mengantuk sambil bersandar di dinding ruang tunggu.

Daripada bengong sendirian aku hampiri bapak-bapak yang duduk terkantuk-kantuk itu, dan ketika ku ajak ngobrol, memang beliau sudah dari pagi sampai di stasiun Gambir, karena terlalu awal datang dari Pangkal Pinang.

Ketika sudah mulai mendekati waktu buka puasa aku ajak Bapak tua tadi mencari musholla, karena aku membayangkan bahwa di jam sholat maghrib musholla pasti akan menjadi tempat yang paling dicari oleh para penumpang muslim.

Masih kurang dua puluh menit dari waktu berbuka ketika aku ketemu musholla di pojok kanan pintu keluar stasiun Gambir. Kami memutuskan untuk menunggu saja disitu sambil ngobrol-ngobrol, karena kebetulan aku juga pernah tinggal di Pangkal Pinang maka ngobrol kami jadi agak nyambung.

Tak berapa lama ada beberapa penumpang yang menyusul masuk, rupanya mereka juga menyadari hal yang sama seperti kami, ada bapak-bapak dengan anaknya, ada adik mahasiswa yang baru saja datang dari tempat kostnya. Kami jadi makin ramai ngobrol, adik mahasiswa tadi jadi mendominasi, karena kebetulan hanya dia yang menetap di Jakarta, dia cerita mulai dari kemacetan di Jakarta, harga-harga yang mulai melambung di ibukota, sampai issue politik yang paling baru, kami hanya jadi pendengar dan hanya sesekali berkomentar.

Ketika kurang sepuluh menit, aku tanya ke adik mahasiswa dimana aku bisa mendapatkan bekal makanan untuk buka dan sahur, karena aku hanya bawa makanan kecil dan air minum saja sebagai bekal. Dia bilang aku bisa mencarinya di lantai 2, dekat pintu masuk, disitu ada resto Jepang yang menyajikan menu cepat saji.

Aku titipkan barang bawaan dan laptopku pada teman-teman baruku di musholla, supaya aku bisa berjalan cepat, karena waktu buka sudah tinggal sedikit. Dengan berjalan agak cepat aku menuju tempat yang dimaksud oleh adik mahasiswa tadi, beruntung sesampainya ditempat pemesanan antrian belum terlalu banyak, sehingga aku bisa dengan leluasa untuk memilih menu, dan membayar dengan cepat.

Di perjalanan kembali aku teringat berita di televisi yang menceritakan seorang penumpang yang ditipu teman seperjalannya yang baru dikenal, semua barang bawaannya dibawa kabur ketika dititpkan saat dia ke kamar mandi terminal, dan ada juga penumpang yang terbius gara-gara minum air yang ditawarkan oleh orang yang baru dikenalnya.

Aku jadi khawatir juga dengan barangku yang kutitipkan kepada teman-teman baruku, aku sempat berprasangka buruk, tapi akhirnya aku tepis prasangka itu dengan sebuah keyakinan, bahwa aku bertemu teman-temanku itu di tempat yang baik (musholla), pasti mereka juga orang yang baik, masak hanya sebuah atau dua buah kasus di televisi aku harus berprasangka kepada semua orang yang aku temui di dalam perjalananku, betapa tidak nyamannya hidupku kalau begitu. Itulah media, sebuah alat yang bisa mempengaruhi opini banyak orang dan lebih parah lagi sebuah alat yang bisa mempengaruhi budaya kalau tidak ada filter/saringan yang mengontrolnya, oleh karena itu secara individual kita harus membuat filter/saringan terhadap informasi yang kita terima dalam bentuk analisa, sehingga kita tidak menelan mentah-mentah semua informasi yang disampaikan kepada kita.

Bersamaan dengan berkumandangnya adzan maghrib aku sampai kembali di musholla, setelah membatalkan puasa, kami langsung sholat berjamaah. Selesai salam kami harus langsung meninggalkan tempat karena yang antri sholat sudah banyak, tidak ada dzikir apalagi doa.

Kemudian kami lanjutkan buka puasa bersama-sama diluar musholla. Karena keretaku yang paling awal, maka aku pamit duluan, untuk melanjutkan perjalananku menuju ke kota tempat istri dan anak-anakku menunggu di rumah.

Selamat tinggal stasiun Gambir, banyak kesan dan pelajaran yang telah aku ambil hari itu. Bahwa setiap langkah kita selalu ada hikmah, asal kita mau berpikir. (Hais-Sidoarjo)

Advertisement

Responses

  1. mudik rasanya gimana siy?
    ga pernah mudik nih

    • @ Senny: Pernah makan cabe??? Waktu mudik kita seolah-olah kapok dng segala macam kesulitannya dan nggak mau mengulang lagi… Tapi waktu ketemu lagi kita akan mudik lagi…. :D

  2. Subhanallah, sungguh beruntung bertemu dengan teman-teman yang bisa dipercaya kendati baru pertama kali berjumpa. Sungguh, kepercayaan itu muncul karena mereka berjumlah lebih dari satu dan dari tempat yang berbeda. Rumah Allah pulalah yang melindungi itu semua. Mungkin ceritanya akan berbeda jika ternyata berita di televisi itu benar adanya. Semoga kita bisa menularkan kepercayaan kepada banyak orang.

    • Akh.. jadi malu, bang Aswi selalu rajin bertamu, saya mah jarang-jarang bisa jalan-jalan.. Maaf ya…

      Itulah bang.. bahwa ternyata di dunia ini sebenarnya masih lebih banyak orang baik, hanya karena kita sering dicekoki dgn prasangka. kita jadi was-was dengan segala macam… krn itu saya selalu pingin untuk bisa belajar sabar dan ikhlas dalam bersilaturahmi… doa’in bisa ya……


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.